![]() |
| Arjen Robben dan Damien Duff merayakan juara premier league |
Duff adalah salah satu pemain berprofil tinggi yang didatangkan pada musim panas 2003 setelah klub dibeli Roman Abramovich, dan ia langsung disukai suporter berkat permainan cemerlangnya di sayap, larinya yang direct dan insting mencetak golnya.
Ia tampil luar biasa saat kami menjuarai League Cup dan Premier
League pada 2004/05, dan ia mengingat betapa cepatnya ia membuktikan
diri kepada Jose Mourinho, yang mulai bertugas pada musim panas itu.
"Untuk dua laga pertama, Man United di kandang dan Palace di kandang
lawan, aku bahkan tidak dibawa sebagai cadangan," ingatnya. "Ia tidak
yakin aku sudah pulih dari cedera bahu, tapi itu menunjukkan bagaimana
caraku mengatasi masalah itu. Aku lebih suka mendapat tendangan daripada
rangkulan."
"Ini menyadarkanku tentang apa yang ia inginkan dariku, sesuatu yang
aku berikan padanya. Aku lalu masuk ke tim dan terus tampil di sisa
musim, kecuali saat cedera."
Duff juga bicara soal hubungannya dengan rekannya sesama pemain
sayap, Arjen Robben dan masih ingat akan debut pemain asal Belanda itu,
ketika bangkit dari bangku cadangan saat menjamu Blackburn Rovers.
"Itu membuka mata kami betapa bagusnya Robbie, dan Anda bisa melihat
itu saat latihan tapi aku ingat di laga itu ia tampil selama setengah
jam dan ia tampil luar biasa. Bisa dibilang, ia membawa kami ke level
yang berbeda."
Tempat kami di final League Cup musim itu diamankan lewat gol
kemenangan dramatis atas Manchester United di Old Trafford yang dicetak
oleh Duff dan ini menjadi momen yang istimewa untuk pemain asal Irlandia
itu.
"Ini bagus karena ketika kecil, aku mendukung Man United dan mungkin
selama bertahun-tahun aku sudah melewatkan beberapa kesempatan untuk ke
sana. Meski di papan skor, namaku masuk di klub yang berbeda, gol itu
merupakan gol kemenangan yang membawa kami ke final jadi malam itu
adalah malam yang baik," imbuhnya.
Duff juga mencetak gol saat kami mengalahkan Barcelona di Liga
Champions dengan skor 4-2 setelah di leg pertama kalah 1-2. Itu laga
yang masih lekat dalam ingatannya.
"Saat itu mereka adalah tim terbaik sepanjang masa, mereka
mengerikan," katanya. "Ini adalah soal sikap, dan kami unggul 3-0
setelah 20-25 menit dan tiba-tiba semua senjata kami keluar."
"Anda bisa bilang bahwa di sisa laga itu kami terus ditekan,
Ronaldinho mempertontonkan kehebatannya di laga itu dan mencetak salah
satu gol terbaik yang pernah Anda lihat di Liga Champions tapi akhirnya
JT mencetak gol kemenangan. Aku menciptakan assist, tapi ketika melihat
kembali laga itu, itu sepak pojok yang mengerikan, tapi sepertinya
menjadi sepakan yang bagus karena usaha JT."
Setelah menghabiskan sisa musim 2005/06 di bangku cadangan, terutama
akibat cedera, seusai musim ketiga, Duff meninggalkan Stamford Bridge
dan ia mengaku harus berpikir berulang kali sebelum memutuskannya.
"Ketika mengingatnya, apakah keputusanku untuk pergi itu salah? Ya,"
katanya. "Aku ingat pernah bicara soal kontrak baru dengan klub, aku tak
pernah punya masalah dengan Jose. Aku masih sangat senang berada di
sana tapi aku ingin pindah untuk bermain sepakbola setiap pekan."
"Aku sudah mengambil keputusan, mungkin keputusan yang gegabah, tapi
itu sesuatu yang selalu kupersiapkan. Aku ingin tinggal, aku seharusnya
tidak pindah. Chelsea adalah satu-satunya klub yang kutinggalkan dengan
perasaan emosional."





0 komentar:
Posting Komentar